Contoh Makalah Ketrampilan Dalam Menulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
  Menulis merupakan kegiatan yang sifatnya berkelanjutan sehingga pembelajarannya pun perlu dilakukan secara berkesinambungan sejak sekolah dasar. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa menulis merupakan kemampuan dasar sebagai bekal belajar menulis dijenjang berikutnya. Oleh karena itu, pembelajaran menulis di sekolah dasar perlu mendapat perhatian yang optimal sehingga dapat memenuhi target kemampuan menulis yang diharapkan. Agar siswa memiliki pemahaman dan keterampilan menulis, diperlukan suatu perencanaan pembelajaran menulis yang tepat dan terencana dengan strategi pembelajaran yang efektif.



B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan keterampilan menulis ?
2. Apa sajakah tahapan-tahapan dalam keterampilan menulis ?
3. Mengapa keterampilan menulis itu penting ?
4. Apa saja yang keterampilan menulis yang diajarkan di SD/MI ?
5. Apa saja metode metode menulis di SD/MI ?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Keterampilan Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang – lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu (Lado, 1964). Gambaran atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan-kesatuan bahasa. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa.
Menulis merupakan suatu proses. Pertama, menulis merupakan proses berfikir, kegiatan menulis merupakan kegiatan berfikir (Murray dalam Cleary & Linn, 199:337), melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya, dan melalui kegiatan berfikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.
Kedua, menulis merupakan proses yang dialami. Tanpa mengalami (malalui pembelajaran ) tidaklah mungkin seseorang dapat menulis, sebab menulus merupakan kemampuan yang berupa keterampilan, dan keterampilan itu harus dialami. Siswa membutuhkan pengalaman yang konsisten. Pada bagian ini, Murray juga mengatakan bahwa menulis harus dipelajari bukan diajarkan. Oleh karena itu, siswa harus mengalaminya langsung. Melalui kegiatan pembelajaran menulis dengan harapan mereka akan memiliki keterampilan menulis secara nyata sesuai dengan perkembangan dan harapannya.
Ketiga, menulis juga merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh penulis untuk menyampaikan gagasan, pesan, informasi melalui media dan kata-kata/bahasa tulis kepada pihak lain. Sebagaiman bentuk komunikasi verbal, menulis melibatkan penulis sebagai penyampai pesan atau isi tulisan, saluran atau medium tulisan, dan pembaca menggunakan pola pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan.
Keempat, dari segi linguistik, menulis adalah suatu proses penyandaian (econding). Menulis adalah suatu keterampilan kognitif (memahami, mengetahui, mempersepsi) yang kompleks, yang menghendaki suatu strategi yang tepat, keterampilan intelektual, informasi verbal, maupun motivasi yang tepat (Gagne & Briggs, 1979). Menulis adalah suatu proses menyusun, mencatat dan mengkomunikasikan makna dan tataran bendaganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan suatu sistem tanda konvensional yang dapat dilihat/dibaca. Tulisan atau karangan adalah suatu medium yang penting bagi ekspresi bahasa, dan menemukan makna.
Ragam tulisan dapat didasrkn pada isi tulisan mempengaruhi jenis informasi, pengorganisasian, dan tata sajian tulisan. Berdasarkan hal tersebut, ragam tulisan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu deskripsi, eksposisi, argumentasi dan narasi.
B. Tahapan-tahapan dalam Keterampilan Menulis
Tahap-tahap menulis, Donald  Murray  menulis  sebuah  deskripsi  tentang  proses menulis  yang  dideskripnya  membangkitkan  semangat  menulis  siswa di  sekolah.  Menulis  diberikan  sebuah  proses  berfikir  yang  terus menerus,  proses  eksperimentasi,  dan  proses  review.  Ada  tiga  tahap aktivitas  menulis  menurut  (dalam  Temple,  1988)  dikutip  dari  Novi Resmini (2006: 231):
a.  Tahap Perencanaan
b.  Tahap Penyusunan Konsep
c.  Tahap Perbaikan
Lima tahap yang diidentifikasi melaui serangkaian penelitian menurut Novi Resmini (2006: 230) :
a.  Pramenulis (prewriting) Pada  tahap  pramenulis,  pembelajar  melakukan  kegiatan  sebagai berikut:  (1)  memilih  topik,  (2)  menentukan  tujuan  menulis,  (3) mengidentifikasi  pikiran-pikiran  yang  berkaitan  dengan  topik serta  merencanakan  pengorganisasiannya,  (4)  memilih  bentuk karangan  yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan  yang telah ditentukan.
b.  Penyusunan draf tulisan(drafting) Kegiatan  yang dilakukan oleh pembelajar pada tahap  ini  adalah: (a) menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan dalam draft kasar, (b) serta lebih menekankan isi daripada tatatulisnya.
c.  Perbaikan (revising) Beberapa  aktivitas  dalam  tahap  merevisi,  yaitu:  (1)  menambah informasi,  (2)  mempertajam  perumusan,  (3)  mengubah  urutan pikiran,  (4)  membuang  informasi  yang  tidak  relevan,  (5) menggabungkan pikiran-pikiran, dan sebagainya.
d.  Penyuntingan (editing) Tahap  editing  meliputi  hal-hal  sebagai  berikut:  (1)  membaca seluruh tulisan, (2)  memperbaiki pilihan kata  yang kurang tepat, (3) memperbaiki salah ketik, (4) memperbaiki teknik penomoran, dan (5) memperbaiki ejaan dan tanda baca.
e.  Pemublikasian (publishing) Tahap publikasi adalah tahap terakhir dalam menulis.  Pada tahap ini, pembelajar: (1) mempublikasikan tulisannya melalui berbagai kemungkinan,  misalnya  mengirimkan  kepada  penerbit,  redaksi majalah,  dan  sebagainya,  (2)  berbagi  tulisan  yang  dihasilkan dengan pembaca yang lain.
C. Pentingnya  Ketrampilan Menulis
Menulis merupakan keterampilan yang penting untuk dikuasai oleh seorang siswa karena keterampilan ini merupakan salah satu faktor keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Namun tidak sedikit siswa yang menganggap penguasaan keterampilan ini lebih sulit dibandingkan dengan penguasaan keterampilan berbahasa lainnya. Benar tidaknya anggapan tersebut, kita dapat mengeceknya di lapangan. Tentu saja kesulitan itu tidak hanya menghinggapi kalangan siswa, tetapi juga kalangan masyarakat pada umumnya. Selain itu ada banyak manfaat atau kegunaan menulis diantaranya yaitu :
1. Memperluas dan meningkatkan pertumbuhan kosa kata.
2. Meningkatkan kelancaran tulis menulis dan menyusun kalimat.
3. Sebuah karangan pada hakikatnya berhubungan bahasa dan kehidupan.
Kegiatan tulis menulis meningkatkan kemampuan untuk pengaturan dan pengorganisasian. Mendorong calon penulis terbiasa mengembangkan suatu gaya penulisan pribadi dan terbiasa mencari pengorganisasian yang sesuai dengan gagasannya sendiri.

D. Ketrampilan Menulis  Yang Diajarkan  Di Tingkat Dasar
Berdasarkan jenjang kelas di SD pembelajaran menulis dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Pembelajaran menulis permulaan
Kegiatan ini biasa disebut dengan hand writing, yaitu cara merealisasikan simbol- simbol bunyi dan cara menulisnya dengan baik dan benar. Tingkatan ini terkait dengan strategi atau cara mewujudkan simbol-simbol bunyi bahasa menjadi huruf- huruf yang dapat dikenali secara konkret.
Tujuan menulis permulaan adalah agar siswa dapat menulis kata-kata dan kalimat sederhana dengan tepat. Pada menulis permulaan siswa diharapkan untuk dapat memproduksi tulisan dapat dimulai dengan tulisan eja. Contoh tulisan e,d,f,k,j dan dapat berupa suku kata seperti su-ka, ma-ta, ha-rus, lu-ka serta dalam bentuk kalimat sederhana. Seperti halnya membaca permulaan, menulis permulaan juga dapat menggunakan metode-metode seperti metode abjad, metode suku kata, metode global dan metode SAS. Pembelajaran permulaan ini terjadi pada kelas rendah yaitu kelas I dan kelas II.
Ruang lingkup pembelajaran menulis di kelas rendah antara lain sebagai berikut :
·         Kelas I ( satu )
Menulis permulaan di kelas I ini menggunakan huruf-huruf kecil, tujuannya siswa dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis, materi pelajaran menulis permulaan dikelas I SD disajikan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan huruf, suku kata, kata-kata atau kalimat.
·         Kelas II ( dua )
Menulis permulaan di kelas II ini menggunakan huruf – huruf besar pada pada awal kalimat dan penggunaan tanda baca, tujuannya siswa memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis, untuk memperkenalkan cara menulis huruf besar di kelas II SD mempergunakan pendekatan spiral maksudnya huruf demi huruf diperkenalkan secara berangsur-angsur sampai pada akhirnya semua huruf dikuasai oleh para siswa.
2. Pembelajaran menulis lanjutan ( pemahaman )
Pembelajaran menulis ini terdapat dikelas III, IV, V, VI. Tujuan menulis lanjut adalah agar siswa mampu menuangkan pikiran dan perasaannya dengan bahasa tulis secara teratur dan teliti. Yang membedakan menulis permulaan dengan menulis lanjut adalah adanya kemampuan untuk mengembangkan skema yang ada yang telah diperoleh sebelumnya untuk lebih mengembangkan hal-hal yang akan ditulis.
Teknik dan Model Pembelajaran Menulis Cerita berdasarkan butir-butir pembelajaran menulis di kelas tinggi (kelas 3-6) SD terdapat ragam teknik pembelajaran menulis. Teknik pembelajaran menulis dikelompokkan menjadi dua, yakni menulis cerita dan menulis untuk keperluan sehari-hari.
Menulis cerita Teknik ini terdiri atas 6 macam, yaitu:
a. Menyusun kalimat.
Teknik menyusun cerita dapat dilakukan dengan: menjawab pertanyaan, melengkapi kalimat memperbaiki susunan kalimat, memperluas kalimat, subtitusi, transfomtasi dan membuat kalimat.
b. Teknik memperkenalkan cerita Meliputi : baca dan tulis, simak dan tulis
c. Meniru model
d. Menyusun paragaf
e. Menceritakan kembali
f. Membuat..

E. Metode Pembelajaran Menulis
1. Metode langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan.  Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa.  Dari gambar tersebut, siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
2. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.  Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir.  Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog.  Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas.  Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok.
3. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses.  Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antarbidang studi.  Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan.  Sebagai contoh: menulis diintegrasikan  dengan berbicara dan membaca.  Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi.  Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia  dengan matematika atau dengan bidang studi lain.
4. Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan.  Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa.   Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
5. Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan.  Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka.  Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari siswa sendiri dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
6. Metode Kontekstual
Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.  Metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi.  Siswa dapat belajar dalam situasi dunia  nyata, tidak dalam dunia awang-awang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran menulis merupakan salah satu pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah. Pada saat pembelajaran tersebut, terdapat kendala yang dihadapi siswa.  Salah satunya adalah bahwa siswa sangat kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, ide, pengalaman, atau perasaannya ke dalam bentuk tulisan.  Oleh karena itu, berdasarkan hal tersebut, guru dapat menggunakan  metode-metode yang menjadi metode alternatif dalam pembelajaran menulis, seperti: metode langsung, metode komunikatif, metode integratif, metode tematik, metode konstruktivistik, atau metode kontekstual.  Selain itu, dapat dipergunakan pula metode yang mutakhir, seperti: community language learning, metode suggestopedy, metode physical response, atau metode the silent way. Diharapkan dengan penggunaan metode tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis.

B. Kritik dan Saran
Demikianlah makalah yang dibuat dari kelompok kami mengenai keterampilan menulis di sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah. Kami sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dan kami harap para pembaca mau memberi kritik dan saran agar makalah ini lebih sempurna.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel